Minggu, 10 Agustus 2014

Ternyata, Harga Logo Twitter Cuma 150 ribuan

Jakarta - Selain nama, logo menjadi sebuah hal yang penting bagi sebuah merek. Namun hal ini yang kurang diamini oleh raksasa layanan mikroblogging Twitter. Karena, logo awal perusahaan tersebut tidak semahal yang diperkirakan. Ya, sebagai perusahaan internet yang populer, di awal berdirinya Twitter, perusahaan itu ternyata mencari sebuah logo dari situs stock fotografi, iStock. Setelah Twitter diluncurkan pada tahun 2006, Twitter membeli logo pertamanya tersebut dengan harga tidak lebih dari USD 15 atau sekitar Rp 150 ribuan. Demikian yang dikutip detikINET dari Business Insider, Minggu (10/8/2014). Kalau masih ingat, logo awal Twitter berupa gambar burung yang sedang nangkring di sebatang ranting pohon. Logo burungnya pun berwarna putih dominan dan bukanlah warna biru yang dipakai saat ini. Si penciptanya sendiri adalah Simon Oxley, seorang desainer grafis asal Inggris yang menetap di Jepang. Dia saat itu memang menyerahkan hasil karyanya ke iStock. Oxley sendiri belum pernah mendengar Twitter saat itu. Twitter akhirnya meninggalkan desain pada tahun 2009, karena perusahaan tidak seharusnya menggunakan gambar iStock sebagai logo resmi mereka. Logo Twitter sempat mengalami perubahan kecil pada tahun 2012, tepatnya paruh kecilnya yang sedikit naik untuk menujukkan optimisme Twitter. (tyo/tyo) inet.detik.com

Facebook Massenger Disambut Negatif

Jakarta - Sejak beberapa minggu lalu, Facebook menginginkan seluruh pengguna layanannya beralih ke layanan mesengger miliknya. Sayangnya, paksaan ini tak berbuah hasil positif. Memang pengguna Facebook Mobile yang ingin berkirim pesan harus terlebih dahulu menginstal Facebook Messenger. Alhasil, layanan terpisah ini mampu mendongkrak hingga ke posisi pertama di App Store dan Google Play Store di sejumlah negara. Akan tetapi, posisi teratas tidak diikuti dengan respon yang pantas. Pasalnya, nyaris di sejumlah kawasan, Facebook Messenger mendapatkan nilai bintang satu. Ini artinya, layanan ini tidak disambut dengan baik. "Tidak ada sesuatu yang saya lihat istimewa sehingga harus Facebook Messenger berdiri jadi aplikasi sendiri," kata salah seorang yang menginstal, seperti dikutip detikINET dari Business Insider, Senin (11/8/2014). "Mereka membuat aplikasi yang buruk untuk membuang-buang ruangan penyimpanan di ponsel," tulis yang lainnya. Menurut analisa ada beberapa alasan mengapa pada akhirnya pengguna tidak bahagia menginstal Facebook Messenger di perangkatnya. Selain dipaksa untuk men-download dan menggunakan aplikais lain, tampaknya mereka juga khawatir dengan masalah privasi. (tyo/tyo)Inet.detik.com